Posts

Ya Entahlah

Ketika integritas hanya sebatas tulisan di kertas, tersimpan rapi dalam rak lemari paling atas. Belum sepenuhnya dipahami dalam hati yang pantas. Ketika komitmen hanya sebatas kata yang telah lama tidak dicari keberadaannya. Begitu pula ketika kehadiran hanya sebatas formalitas untuk mendapatkan nilai rupiah yang tak terbatas. Apa dikata banyak orang tentang ini. Menjadi cerminan dalam masyarakat masa kini. Tak bisa terbantahkan, memang demikian adanya. Lemahnya pengawasan menjadi senjata utama untuk merencanakan strategi dalam mempertahankan zona nyaman. Tidak selaras antara laporan dengan apa yang dilakukan. Banyak yang harus dibenahi, mulai dari diri sendiri tentunya. Namun apa daya ketika diri ini mulai perlahan masuk dalam arus permainan ini. Deras sekali arus yang harus dilewati, jika orang lain berada disini mungkin akan mengikuti arus entah kemana mau pergi. Godaannya tak bisa terbantahkan, kondisi nyaman yang terbentuk perlahan mulai melunturkan nilai-nilai yang sudah ter

Persiapan Masa Peralihan

Kurang lebih dua bulan lamanya ku harus menunggu. Tak sabar rasanya ingin segera duduk disampingmu mengucap janji suci dihadapan orang tuamu. Entah bagaimana rasanya nanti, yang penting kesiapan diri adalah yang paling dicari. Semoga kamu disana baik-baik saja. Aku disini juga berusaha untuk tetap baik. Kuharap kita bisa saling menjaga diri dan hati agar tidak menghianati apa yang sudah kita sama-sama tepati. Kita sementara dipisahkan oleh jarak yang tak bisa ditempuh dengan berjalan kaki ataupun dengan motor yang dikendarai. Perlahan jarak itu akan aku lalui hingga suatu saat nanti (insyaallah) tak ada lagi jarak yang berarti bagi diriku dan dirimu yang ada di hati. Biarlah rindu menyerang dulu, jangan dilawan, ada saatnya nanti kita akan merindukan rindu yang bertamu.  Jika suatu saat nanti kamu menjumpai sifatku yang kurang baik, maka jangan langsung membenciku, akan tetapi bencilah sifatku dan beritahu aku. Karena aku bukanlah insan yang sempurna. Semoga kita bisa saling m

Di Masa yang Lalu

Di desa itu aku merindu. Teringat dulu saat umurku belum berkepala dua. Belum lagi teman bermainku yang banyak jumlahnya. Setiap sore rasanya senang sekali bermain bola meskipun skill ku tak seberapa. Di halaman depan rumahku tepatnya aku mulai melatih diri mencintai benda bulat ini yang besarnya waktu itu lebih besar sedikit dari kepala. Tendangan pertama diambil alih oleh kaki kanan. Ternyata si kaki kanan ini tampak egois, tidak mau berbagi dengan kaki kiri dan hasilnya tendangan kaki kananku lebih kuat dari kaki kiri. Oke itu tidak masalah bagiku. Selain sepak bola permainan yang sering aku lakukan adalah petak umpet. Serunya saat mencari tempat persembunyian paling dominan untuk tidak terlacak. Begitu juga saat adu lari untuk lebih dulu sampai di Base , biasanya digunakan tiang atau tembok. Perasaan was was harus muncul saat harus mencari dimana lawan berada. Degup jantung lebih kencang daripada situasi kencan pertama dengan wanita. Mata dan kaki harus tetap seirama dan telit

Senyum Manismu

Senyummu masih manis seperti dulu, saat kita pertama kali bertemu. Tergambar jelas bibirmu yang melebar dengan ujungnya yang sedikit terangkat, walau lesung pipimu malu-malu untuk keluar bagiku itu adalah ciri khas tersendiri yang terlihat sempurna bagi lelaki yang memandangnya. Balutan jilbab anggunmu menambah kesempurnaan yang terpancar dari aura jiwamu. Bagiku, memilikimu adalah prestasi terbesar dalam hidup ini. Memang benar, salah satu kenikmatan dunia adalah memiliki istri yang sholihah. Namun apa dayaku, yang hanya bisa memandangmu dari "si kotak ajaib," dan aku khawatir jika berlama-lama, setan akan ikut di dalamnya. Tapi aku tak perlu terlalu condong padamu, kehidupan mengajarkan cintailah seseorang sewajarnya, jangan terlalu berharap jangan pula terlalu memaksa, jika cinta ini tidak tersampaikan, justru penyesalan bertubi-tubi lah yang akan datang dalam kehidupan. 

Rindu Yang Kembali

Aku benci saat sosok rindu tiba-tiba bertamu dalam pikiranku, yang kutahu padahal dia sudah melupakanku, sudah ada pujangga lain yang melunturkan harapanku. Seolah-olah rindu ini salah, dia tak perlu singgah kembali dipikiranku. Namun ku tak kuasa menolak datangnya rindu. Kupersilakan dia masuk. Sesuai tebakanku, dia membawakan oleh-oleh bayangan manis wajahnya, senyuman yang lebar tergambar jelas sebagai pelengkap keanggunan dirinya. Sosok rindu ini kembali memutar rekaman kisah kita saat pertama kali berbincang. Cahaya dimatanya mampu meyakinkanku bahwa dia adalah orang yang baik. Rencana demi rencana mulai ku rancang bangunkan untuk bisa mendampingimu. Tapi takdir berkata lain, seolah-olah takdir berisik kepadaku "kamu terlalu lama, terlambat untuk menyatakan cinta kepadanya." Entah sampai kapan sosok rindu ini kembali bertamu lagi. Kemanapun aku pergi dia selalu tahu alamat keberadaanku. Aku hanya bisa berharap semoga sosok rindu yang datang, membawakanku kisah lain

Terbang Untuk Mendarat

Kucoba mencari dirimu dari bilik jendela si burung besi, terlalu kecil bagiku untuk melihat jilbab anggunmu yang sering kau kenakan itu. Semua terlihat seperti butiran debu yang tiada arti. Pantas saja Allah Maha Besar, ternyata kita sangat sangat kecil dimata-Nya. Lalu, masih pantaskah kita menyombongkan diri kepada sesama? Kulihat terbentang luas langit di angkasa, dihiasi dengan pemandangan lautan awan yang begitu mempesona. Atas kuasa-Nya lah semua ini tercipta. Aku hanya bisa duduk diam dan mengikuti perintah pramugari yang ada. Sesekali membayangkan bila mesin pesawat ini berhenti secara tiba-tiba, atau mungkin sayap pesawat yang patah karena petir yang tidak disangka-sangka. Walaupun sudah sering duduk di bangku si burung besi namun masih saja ada perasaan seperti ini. Hanya kepada-Nya lah aku berpasrah. Terbang untuk mendarat kembali. Itulah harapanku satu-satunya saat berada di tengah-tengah lautan awan. Kali ini penerbanganku tertuju pada negeri paling timur Indon

Menunda Pagi

Cuaca ini memaksaku untuk tidur lebih lama di pagi hari. Beberapa jam lagi kiranya ku membutuhkan timing seperti ini untuk menyelam dalam alam mimpi yang sempat terhenti di waktu fajar tadi. Pesona bantal dan ranjang membuat raga ini pasrah untuk jatuh di permukaannya. Aku rela dipeluk selimut lembut untuk menepis suhu dingin yang menyerang tubuhku. Aku rasa banyak orang yang berada sama dalam posisiku ini, terbaring santai untuk kembali tidur di pagi hari. Apalagi hari ini adalah hari setelahnya Jumat dan hari sebelumnya Ahad. Hari dimana pekerjaan kantor ditunda terlebih dulu. Mungkin sebagian orang ada yang belum bisa menikmati hari ini dengan bersantai seharian di rumah. Atau mungkin ada beberapa orang yang rela tiada hari tanpa bekerja. Itu kembali pada pilihan mereka masing-masing. Kudengar dalam bilik kamar suara "tangisan langit" masih menghiasi isi ruangan, menjadi musik penghantar tidur paling merdu saat ini. Lengkap sudah semua komponen pendukung pagi ini m